BAB
|
NO
|
KITAB TENTANG TAYAMMUM
|
1
|
Jika kamu tidak menemukan air ... (Al-Qur’an, surat Al-Maedah : 6)
| |
223.
|
Diriwayatkan dari Aisyah r.a, isteri Nabi s.a.w, dia berkata : Kami pernah menyertai Nabi s.a.w dalam suatu perjalanan. Ketika kami sampai di Bayda’ atau di Dzatuljaisy, kalung saya putus sehingga hilang. Rasulullah s.a.w berhenti untuk mencari kalung saya dan orang-orang pun turut berhenti bersama Rasulullah s.a.w, padahal tidak ada air di situ. Orang-orang menemui Abu Bakr Ash-Shiddiq, mereka melaporkan, “Tidakkah kau tahu apa yang diperbuat oleh Aisyah? Dia membuat Rasulullah s.a.w dan semua orang terhenti, padahal di tempat ini tidak ada air dan air yang mereka bawa juga sudah habis?” Abu Bakr mendatangi saya ketika Rasulullah s.a.w membaringkan kepalanya di atas pangkuan saya dan beliau telah tertidur. Abu Bakr mengatakan kepada saya, “Kamu telah membuat Rasulullah s.a.w dan orang-orang dalam rombongan ini terhenti, padahal di tempat ini tidak ada air dan air yang mereka bawa juga sudah habis...” Kata Aisyah : Abu Bakr memaki dan mengungkapkan kemarahannya pada saya, serta menekankan tangannya pada lambung saya, saya pun tidak bisa bergerak karena paha saya tertindih oleh kepala Rasulullah s.a.w yang sedang tidur. Ketika fajar Rasulullah s.a.w bangun tanpa ada air, kemudian Allah menurunkan ayat tayammum. Usayd bin Hudhayr mengatakan, “Wahai keluarga Abu Bakr! Ini bukkanlah keberkahan yang pertama bagi kalian”. Kata Aisyah : Kemudian orang-orang membangunkan unta yang telah menjadi tunggangan saya, ternyata mereka menemukan kalung saya di bawah unta itu.
(Hadits shahih Imam Bukhari, nomor hadits : 334)
| |
224.
|
Diriwayatkan dari jabir bin Abdullah r.a, bahwa Nabi s.a.w pernah bersabda : “Aku diberi lima hal yang tidak pernah diberikan kepada orang lain sebelum aku: 1) Aku diberi kemenangan dengan takutnya musuh-musuhku kepadaku dari jarak seukuran perjalanan satu bulan; 2) Bumi dijadikan untukku sebagai tempat bersujud/tempat mendirikan shalat dan sebagai sarana yang suci untuk bertayamum. Sehingga siapapun di antara umatku bisa mendirikan shalat di manapun dia berada ketika tiba waktu shalat; 3) Ghanimah (harta rampasan perang yang diambil dari musuh yang kafir) dihalalkan untukku, dan tidak pernah dihalalkan bagi siapapun sebelum aku; 4) Aku diberi hak untuk memberikan syafaat pada hari kiamat; 5) Nabi-nabi yang lain hanya diutus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada semua umat manusia.”
(Hadits shahih Imam Bukhari, nomor hadits : 335)
| |
2
|
Tayamum bagi orang yang tidak bepergian apabila tidak ada air dan dia khawatir waktu shalat lewat
| |
225.
|
Diriwayatkan dari Abu Juhaym bin Al-Harits Al-Anshariy r.a, dia berkata : Suatu ketika Nabi s.a.w datang dari arah Bi’r Jamal, kemudian ada seorang laki-laki menemui Nabi s.a.w dan mengucapkan salam kepada beliau, namun nabi s.a.w tidak menjawab salam itu, hingga beliau pergi menuju suatu tembok lalu beliau menggosokkan kedua telapak tangannya untuk kemudian beliau usapkan pada wajah dan tangannya, baru kemudian beliau menjawab salam tadi.
(Hadits shahih Imam Bukhari, nomor hadits : 337)
| |
3
|
Apakah orang yang bertayammum meniup debu di kedua telapak tangannya?
| |
226.
|
Diriwayatkan dari Ammar bin Yasir r.a, bahwa dia pernah bertanya kepada Umar bin Khaththab : “Ingatkah Anda ketika saya dan Anda sedang dalam perjalanan, lalu Anda tidak shalat (karena tidak ada air), sedangkan saya berguling-guling di atas tanah kemudiah saya shalat, lalu peristiwa itu saya laporkan kepada Nabi s.a.w, kemudian beliau bersabda, ‘Kamu cukup melakukan seperti ini. Nabi s.a.w memperagakan dengan menepukkan kedua telapak tangannya pada tanah, lalu beliau meniupnya, kemudian beliau mengusapkannya pada wajah dan kedua tangannya’.”
(Hadits shahih Imam Bukhari, nomor hadits : 338)
| |
4
|
Debu yang suci sebagai pengganti wudhu bagi seorang muslim
| |
227
|
Diriwayatkan dari Imran bin Hushayn Al-Khuza’iy r.a, dia berkata : Kami pernah menyertai Nabi s.a.w dalam suatu perjalanan. Kami terus berjalan sampai dini hari, kemudian kami beristirahat di suatu tempat yang sangat cocok untuk musafir, sehingga kami tidur dengan pulas dan kami baru bangun setelah merasa hangat oleh sinar matahari. Pertama-tama yang bangun tidur adalah si Fulan, kemudian si Fulan, lalu si Fulan dan yang keempat adalah Umar bin Al-Khaththab r.a. Biasanya kalau Nabi s.a.w tidur, kami tidak berani membangunkannya sampai beliau bangun sendiri, sebab kami tidak tahu apa yang sedang diwahyukan kepada beliau ketika beliau sedang tidur. Ketika Umar bangun dan melihat apa yang dialami oleh orang-orang itu. Umar adalah orang yang tegas, dia bertakbir dengan suara keras dan terus saja dia bertakbir dengan suara keras sehingga membuat Nabi s.a.w bangun. Ketika Nabi s.a.w bangun tidur, orang-orang mengadukan kepada beliau apa yang telah mereka alami. Nabi s.a.w bersabda : “Tidak apa-apa, ayo berangkat saja”. Mereka pun berangkat. Setelah berjalan tidak seberapa jauh, Rasulullah s.a.w berhenti, kemudian beliau meminta air, lalu beliau berwudhu. Panggilan shalat dikumandangkan, lalu Rasulullah s.a.w mengimami mereka shalat. Seusai shalat, Rasulullah s.a.w mendapati seorang laki-laki menyendiri yang tidak turut shalat bersama-sama dengan para jamaah, beliau bertanya, “Mengapa kamu tidak turut shalat dengan orang-orang tadi?” Laki-laki itu menjawab, “Saya mengalami junub, sedangkan air untuk mandi tidak ada”. Rasulullah s.a.w bersabda : “Bertayammumlah dengan tanah/debu dan itu sudah cukup bagimu!” Kemudian Nabi s.a.w melanjutkan perjalanan, lalu orang-orang mengadu kepada beliau karena haus. Beliau turun dari kendaraannya, kemudian beliau memanggil si Fulan dan Aliy r.a. Beliau bersabda : “Pergilah kalian berdua untuk mencari air!” Keduanya pergi, lalu mereka berdua bertemu dengan seorang perempuan yang menunggang unta dengan membawa dua kantong air. Si Fulan dan Aliy bertanya kepada perempuan itu, ‘Di mana ada air?’ Perempuang itu menjawab, ‘Di sana, pada jam seperti ini kemarin saya mengambil air dan teman-teman kami masih ada di belakang’. Si Fulan dan Aliy berkata kepada perempuan itu, ‘Ayo pergi dengan kami!’ Tanya perempuan itu, ‘Kemana?’ Keduanya menjawab, ‘Kepada Rasulullah s.a.w.’ Perempuan itu bertanya, ‘Apakah dia yang disebut Ash-Shabi’ (pembawa agama baru)?’ Kedua laki-laki itu menjawab, ‘Ya, betul. Ayo berangkat!’ Si Fulan dan Aliy membawa perempuan kepada Rasulullah s.a.w dan menceritakan kepada beliau apa yang telah terjadi. Nabi s.a.w bersabda, “Bantulah perempuan itu turun dari untanya!” Nabi s.a.w meminta satu wadah, kemudian beliau menuangkan air ke wadah itu dari dua kantong air yang dibawa oleh perempuan tersebut. Beliau hanya menuangkan sedikit air dari salah satu kantong, kemudian beliau menutupnya lagi, kemudian beliau membuka kantong yang lain yang lebih kecil. Orang-orang dipanggil untuk minum dan memberi minum hewan tunggangan mereka, sehingga mereka beserta hewan tunggangan mereka bisa minum semua. Di akhir kesempatan, Rasulullah s.a.w memberikan satu bejana berisi air kepada orang yang mengalami junub semalam, seraya bersabda, “Bawalah air ini, lalu tuangkan ke seluruh tubuhmu!” Sementara itu perempuan tersebut berdiri menyaksikan apa yang sedang dilakukan oleh Nabi s.a.w terhadap air miliknya. Demi Allah! Ketika dua kantong milik perempuan itu dikembalikan, kamu seolah melihat airnya lebih penuh daripada semula, kemudian Rasulullah s.a.w bersabda, “Kumpulkan makanan untuk perempuan itu!” Orang-orang pun mengumpulkan kurma, gandum dan sawiq (sejenis kue/roti) dengan dibungkus kain kemudian mereka letakkan di atas unta perempuan itu di bagian depan. Rasulullah s.a.w bersabda kepada perempuan itu, “Kau tahu kan bahwa kami tidak mengurangi airmu sedikitpun, tetapi Allahlah yang telah memberi kami minum”. Perempuan itu kemudian pulang ke warganya dengan terlambat. Warganya bertanya, “Mengapa kamu terlambat, hai Fullanah?” Perempuan itu menjawab, “Ada peristiwa ajaib. Saya ditemui oleh dua orang-laki-laki, kemudian mereka mengajak saya untuk menemui seseorang yang disebut Ash-Shabi’ (pembawa agama baru), lalu dia melakukan begini dan begitu. Demi Tuhan! Dialah orang yang menguasai ilmu sihir”. Perempuan itu bercerita dengan memperagakan dua jari tengahnya dan telunjuknya, lalu dia gerakkan ke atas, yakni ke langit dan juga ke bumi (dalam menirukan apa yang telah diperbuat oleh Rasulullah s.a.w), atau orang tersebut memang benar sebagai utusan Allah. Setelah itu pasukan kaum muslimin menyerang kaum musyrikin di sekitar perkampungan perempuan tersebut dengan membiarkan perkampungan yang dihuni oleh perempuan itu. Pada suatu hari, perempuan itu berkata, “Menurut saya, kaum muslimin tidak menyerang perkampungan kita ini bukan tanpa sebab. Karena itu, sudikah kalian memeluk Islam?” Mereka mematuhi seruan perempuan itu dan mereka semua memeluk Islam.
(Hadits shahih Imam Bukhari, nomor hadits : 344)
| |




0 komentar:
Post a Comment
Situs ini menerapkan “Dofollow Site Comment System”
Beri komentar sebanyak-banyaknya yang tentunya akan membawa manfaat pula bagi perkembangan blog/situs Anda. Namun komentar Anda harus dengan syarat :
1. Tidak mengandung Spam, SARA, Pornografi;
2. Komentar harus ada kaitannya dengan materi yang dibahas
dalam posting;
3. Tidak berisi link aktif di dalam badan komentar.
Selamat berkomentar dan semoga bermanfaat bagi perkembangan blog/situs Anda.
Terima kasih.